Sabtu, 24 Agustus 2013
MATA RINDU AYAH
Seorang Ayah sedang menghitung hari. Sebentar lagi ia akan pensiun. Bulan lalu ia menerima gelas termos sebagai kenangkenangan dari kantor tempatnya bekerja. Beberapa barang yang ia taruh di meja kerjanya pun mulai ia bawa pulang satusatu. Ia cukup berharap pada uang pensiun yang akan ia terima. Entah akan diterimanya setiap bulan atau sekaligus ia terima. Uang yang setiap bulan itu akan menafkahi istri dan anakanaknya dirumah. Namun jika uang itu nanti diterima sekaligus,ia berniat akan umroh bersama istri dan anakanaknya. Kadang rautnya sedih,sebab pensiun berarti ia tak akan bekerja lagi. Apakah uang pensiun cukup memenuhi kebutuhan keluarga? Sementara ia tak punya pemasukan apaapa selain pekerjaannya sekarang. Apalagi anakanaknya belum mendapat pekerjaan. Ia sudah tua. Didalam hati kecilnya,ia ingin sekali melihat putri sulungnya menikah. Lalu ia menimang seorang cucu. Pernah disalah satu toko,ia melihatlihat kereta bayi. "Kapan saya bisa membeli kereta ini untuk cucu saya?" ia berkata dengan sinar mata penuh kerinduan.
COMRADE
Apa yang bisa kuberikan kepadamu,kawan? tentang sua kita yang tak lagi sesering dulu. atau sapa yang tak lagi memenuhi ruang curhat kita di telfon. kau sedang membangun ketegaran pada buah hati yang belum sempat melihat dunia. kau masih berteriak dijalan,dipanggung-panggung diskusi,dipetisi-petisi yang kau tulis semalaman,berjuang menentang segala penindasan atas nama rakyat. adakah kau masih menemui pantai dibawah gemintang? kala kau mendamba seuntai ijab qabul. dan kau akan tertawa,merasa bermimpi terlalu tinggi. dan aku ingat,kita melahap kuekue kecil yang kubawa kekantormu. atau kekecewaanmu pada sebuah pekerjaan yang menolakmu karena kedua matamu rabun senja. padahal kau sedang butuh kerja. padahal kau punya kapasitas ilmu dan pengalaman. tapi aku tahu,kau bukan orang yang pantang menyerah. kau orang yang selalu memarahiku karena menyayangiku. kau orang yang membesarkan hatiku ketika semua orang menghakimiku. lalu apa yang bisa kuberikan kepadamu,kawan? ketika doadoa tak lagi mampu membendung seluruh rinduku. ketika kenangankenangan tak pernah mampu menghapus kesyukuranku telah mengenalmu dan menjadi temanmu.
BINTANG FAJAR
Apa kau pernah melihat bintang disaat fajar? Apa kau pernah mendengarkannya bernyanyi membangunkan matahari? Bintang yang berkelapkelip seorang diri,berharap kau menemukannya dengan teleskopmu,atau cukup dengan kedua mata telanjang kau menunjuk keberadaannya,memandanginya,memanggil namanya,menempatkannya disalah satu ruang hatimu sebagai apa saja. Sebab ia akan hadir untukmu,menemanimu menjemput pagi,menghapus lara dan membangkitkan lagi senyummu,berdoa mensyukuri karunia Tuhan setiap hari,dan mengajakmu bercerita tentang mimpimimpi,cinta dan alam semesta.
KITA
Kemesraan kita seringkali lahir dari halhal sederhana. Kala engkau mencium keningku ketika hendak pulang,menghapus keringat diwajahku diterik siang,menyandarkanku didadamu sambil mendengarku berkeluh manja. Dan kala aku menyeduh secangkir kopi untukmu,memasak tempe goreng favoritmu,memeluk punggungmu diatas vespa. Lalu kita akan mengenang lagi tempattempat yang pernah kita datangi;taman Rotterdam,kafe mario,warung nasi goreng dipinggir jalan,pantai losari. Terkadang kita pun mengabaikan pertemuan untuk sekedar membisikkan kerinduan dan cinta lewat suara dan doa.
Jumat, 23 Agustus 2013
KESEDIHAN
Kamu tahu,aku selalu membenci kesedihan. Aku tak suka
melihat diriku menangis. Aku tak suka dadaku terasa perih seperti dihantam
badai. Lalu mencipta luka disana. Lubang besar yang menganga lebar. Tapi
semakin aku membenci kesedihan itu,ia semakin sering datang. Dia bahkan lebih
setia dari pacarku dan sahabatsahabatku.
Sedih itu sakit. Sedih itu menyiksa. Sedih itu membuatku
tak bisa tidur. Tak enak makan. Sedih membuat kantong mataku menghitam. Tubuhku
menjadi kurus. Rambutku tak terurus. Mukaku pucat. Sedih membuat akal fikiranku
mati. Hatiku kosong. Sedih membuatku malu berhadapan dengan Tuhan. Sedih
membuatku harus berakting ceria didepan ayah dan ibu. Sedih membuat
sahabatsahabatku lelah dijadikan tempat curhat. Sedih membuatku kehilangan
tawa,gembira,harapan. Sedih membuatku tak bisa menahan marah. Lalu melukai
orangorang terdekatku. Lalu mereka menjauh. Dan aku sendirian. Dibekam sepi.
Maka aku membenci kesedihan selamanya. Aku akan
matimatian melakukan apapun agar aku terhindar darinya. Meski aku tak selalu
memiliki nafas panjang untuk kuhela agar airmataku tak menetes. Aku tak selalu
pandai berpurapura tersenyum agar kesedihan itu luluh lantah. Aku tak selalu
punya daya untuk berlari mencari penghiburan agar kesedihan kehilangan jejakku
dan berhenti mengikutiku.
“wahai kesedihan,pergilah. Kumohon.”
RITMI (1)
Tahukah kamu,aku tak selalu mencintaimu. Kadang aku
membencimu. Aku marah padamu. Aku ingin meninggalkanmu. Melarangmu datang lagi
ke rumahku. Lalu aku akan menangis. Meringkuk diatas bantal dan berharap kamu
akan menelfon dan berkata, “Maafkan aku,sayang.”
Beberapa saat kemudian,ponselku berdering. Kamu menelfon. Sengaja kuangkat
agak lama.
“Maafkan
aku,Sayang..” ucapmu lembut
Lalu seluruh dinding baja hatiku seketika luluh lantah.
Berganti sungaisungai yang mengalir jernih. Daundaun jatuh perlahan. Hujan deras
berganti langit biru muda. Awanawan teduh.
“Iyya..” jawabku manja
Ah,betapa kekanak-kanakanku. Betapa sabarnya kamu.
Aku tak bisa menghitung berapa kali kamu mengalah demi
aku. Mungkin sebanding dengan berapa kali aku memarahimu. Aku tak bisa
menghitung berapa kali kamu jatuh lalu bangkit lagi dan bertahan untuk
mencintaiku. Mungkin sebanding dengan berapa kali aku memintamu pergi jauh dan
jangan kembali. Aku juga tak bisa menghitung berapa banyak kamu berkorban
untukku. Mungkin sebanyak aku melukai hatimu.
Tapi..kamu tetap ada. Selalu ada. Untukku.
Sayangku,mungkin aku tak bisa menjadi kekasih terbaik
untukmu. Tapi aku berjanji akan menjadi kekasih paling setia yang
menemanimu,selamanya.
_Untukmu,rif
Langganan:
Postingan (Atom)